Kisah Pak Berry Meraup Dolar


Koran Tempo 28/11/2009
Berawal dari iseng membuat theme BlackBerry

Berpromosi lewat situs jejaring sosial rupanya menjadi cara ampuh bagi Deddy Avianto. Bagaimana tidak. Lewat “woro-woro”-nya soal theme BlackBerry ciptaannya di Facebook dan Twitter, pria 42 tahun itu kini tinggal menunggu order dari para kliennya, termasuk sejumlah proyek dari beberapa rumah produksi. Di jejaring sosial pula, kini banyak komunitas terbentuk untuk mengeksplorasi theme-theme BlackBerry buatannya itu. Sebelum menjadi “spesialis” pembuat theme BlackBerry, sebenarnya Deddy mengawalinya dari hal yang tidak disengaja. Januari lalu, Ia iseng-iseng membuat theme untuk perangkat BlackBerry miliknya. Siapa sangka, dari iseng-iseng itu, produsen BlackBerry, Research In Motion (RIM), kepincut dengan themetheme buatannya. Bapak tiga anak ini kemudian mulai serius melakoni pembuatan theme itu dengan membentuk komunitas di jejaring sosial. Dari komunitas inilah, Deddy akhirnya membentuk tim untuk menggarap theme-theme pesanan yang mulai mengalir. “Dari sana saya mulai serius (membentuk tim), itu pun baru Juni-Juli lalu. Sebelumnya saya buat sendiri,” ujar Deddy kepada iTempo, Rabu lalu. Kini, setidaknya, dua atau tiga theme dihasilkan tiap harinya. Untuk mengerjakan order yang diperoleh, Deddy cukup mengerjakannya dari rumah dan “kantor” virtualnya. Melalui surat elektronik, dia membagi pekerjaan dengan timnya, termasuk bagian pendapatan yang akan diterima. Untuk mengerjakan satu proyek, biasanya“dikeroyok” oleh banyak orang dari timnya. Deddy menyebut timnya ini sebagai “pasukan kalong” karena mereka mulai mengerjakan pesanan pada malam hari dan baru rampung pada dinihari. Pasukan kalong yang dipimpin Deddy ini berasal dari beragam profesi. Dari dokter, mahasiswa, sampai karyawan swasta. “Karena mereka mengerjakan ini berdasarkan hobi,” kata Deddy, yang dijuluki “DadBerry” atau “Bapak Berry”. Theme-theme ciptaannya cukup beragam. Seperti salah satu theme terbaru buatannya, yang dipasang di wall akun Facebook-nya tiga hari lalu, adalah theme untuk menyambut Natal. Deddy memang sering membuat theme berdasarkan kejadian atau isu aktual. Contohnya belum lama ini, ia membuat theme tentang Komodo— habitat hewan langka—saat Pulau Komodo masuk nominasi keajaiban dunia. Ia juga pernah membuat theme tari Pendet, ketika Malaysia mengklaim tari asal Bali itu, atau tentang Padang ketika gempa berkekuatan 7,6 skala Richter mengguncang wilayah tersebut. Bahkan, di tengah kisruh Kepolisian RI dan KPK, ia sempat membuat theme tentang “cicak dan buaya”. Namun, theme ini urung diteruskannya. “Saya tidak mau terlalu ke arah politik, cukup yang fun dan ringan saja,” ujarnya. Beberapa theme buatan timnya yang populer dan cukup diminati adalah theme- theme bernuansa otomotif, juga komputer dengan “aroma” Mac, Windows, atau iPhone. Untuk pasar lokal, Deddy dan komunitasnya biasanya membuat theme yang ringan, namun bisa membuat tampilan BlackBerry menjadi jauh lebih menarik. Apalagi, katanya, pengguna BlackBerry di Indonesia kebanyakan untuk gaya hidup semata. Setelah dalam negeri, Deddy dan timnya mulai mengembangkan sayap bisnis ke pasar luar negeri. Kini pundipundi dolar pun mulai mengalir dari hasil penjualan content ke suatu agregator atau semacam “agen” yang mendistribusikan theme buatannya ke portal BlackBerry. Dari portal itulah, theme-theme buatannya bisa diunduh oleh setiap pengguna BlackBerry, dengan membayar US$ 7 per theme-nya. Kendati dari segi jumlah tidak tergolong besar, “Tapi karena rutin, ya, lumayan,” katanya. Awal Desember nanti, Deddy berencana meluncurkan aplikasi BlackBerry yang akan dijual retail ke luar negeri. Aplikasi itu bisa diunduh dengan biaya murah selama setahun. “Nantinya orang bayar setahun, lalu all you can download it,” ujar Deddy. Sedangkan di dalam negeri, ia masih akan mencobanya lebih dulu dalam sebulan, dengan harga Rp 100 ribu per tahunnya. Deddy mengaku tak punya pendidikan khusus yang berhubungan dengan bisnis yang digelutinya itu. Lulus kuliah dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ia malah bekerja di bagian desain. Lalu ia menclok di dunia multimedia, hingga akhirnya terjun ke bidang mobile. Ketika BlackBerry hadir di Indonesia pada 2004, ia langsung tertarik memakainya. “Saya coba ngoprek dan pertama kali membuat milis BlackBerry.” Inilah yang akhirnya mengantar Deddy menjadi si “Bapak Berry”.
𐁌 DIAN YULIASTUTI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: